doa.jpg

Assalàmu 'alaikum wr.wb.

Para pembaca yang dikasihi Allah.
Tak perlu ada rasa khawatir bagi orang-orang yang berserah diri (tawakal) kepada Allah, terhadap semua ketentuan yang Allah jalankan baginya dan bagi seluruh mahluk-Nya. Karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berserah diri kepada-Nya, dan Allah sendirilah yang akan mencukupkan baginya.

Berkata, "Saya telah berserah diri kepada Allah." Adalah begitu ringan bagi siapapun. Namun, untuk melihat dan menerima ketentuan yang Allah jalankan bagi setiap makhluk, itulah yang tidak semua orang mampu melakukannya.

Setiap orang tua bisa saja dengan mudah menyerahkan dan memohon kepada Allah agar semua anaknya menjadi anak yang shalih, yang berguna bagi dirinya, keluarganya dan sesamanya. Akan tetapi terkadang, saat Allah memproses anak-anaknya (untuk menjadi anak yang shalih) melalui jalan nyeleneh atau jalan apapun yang tidak disenangi, orang tua anak tersebut mulai mengeluhkannya.

Bukanlah hal yang tepat jika kita bertanya,

"Ya Allah, mengapa semuanya malah jadi begini?"

"Mengapa dengan saya bertawakal semuanya justru semakin memburuk?" dan sebagainya.

Tetapi, bertanya dan berdo'alah kepada Allah diantaranya seperti berikut,

"Ya Allah, mengapa saya belum bisa memahami maksud dari semua ketentuan-Mu ini? maka dari itu, berilah saya kefahaman mengenai hal ini."

"Ya Allah, mengapa saya belum bisa menerima semua ketentuan-Mu ini? maka, berilah saya hati yang lapang dan kemampuan menerima apa-apa yang telah menjadi ketentuan-Mu terhadap saya dan semua makhluk-Mu," dan sebagainya.

Ada kalanya Allah mengarahkan orang yang bertawakal menuju kebaikan dan ridha-Nya melalui jalan kebaikan dan ketaatan. Namun, tidaklah mustahil bagi Allah untuk memprosesnya melalui jalan keburukan dan dosa meski pada akhirnya sampai pula kepada ridha-Nya. Sebab, setiap kebaikan dan keburukan adalah keduanya sama-sama dalam genggaman Allah. Hanya saja, jika setiap kebaikan berada dalam genggaman tangan kanan-Nya, maka semua keburukan berada dalam genggaman-Nya yang sebelah kiri.

Jadi, jika kita telah benar-benar berserah diri kepada Allah, maka selanjutnya adalah kita harus berprasangka baik (husnudzan) kepada-Nya dan jangan sampai kita su'udzan. Sebab, dengan kita su'udzan kepada-Nya adalah hanya akan menjadikan kita semakin berkeluh kesah yang berujung pada keputus asaan serta jauh dari rahmat-Nya. Kalaupun tidak demikian, pasti kita akan semakin menyombongkan diri dan lupa kepada Allah.

Oleh karena itu, jika saja setelah kita berserah diri kepada-Nya, namun belum mampu memahami ataupun menerima setiap ketentuan Allah, maka hendaklah kita tetap berprasangka baik kepada-Nya. Yakinilah bahwasanya Allah senantiasa memberikan yang terbaik dari sisi-Nya bagi kita semua. Dan jangan lupa pula, hendaknya kita tetap memelihara perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta bermohonlah kepada-Nya agar dikaruniai kekuatan dan kefahaman mengenai segala ketentuan dan kehendak-Nya.

"Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau pulalah kami memohon pertolongan." (QS. Al Fatihah : 5)

Memelihara perintah-Nya dan memohon pertolongan-Nya merupakan adab seorang hamba terhadap Tuhannya. Oleh karena itu, kedua hal ini harus melekat dalam diri setiap Muslim dengan dibarengi kepasrahan kepada-Nya guna menggapai ampunan ridlo-Nya.

Akhirnya, semoga postingan ini bisa dijadikan sebagai renungan kita untuk selalu lebih baik dari sebelumnya, aamiin.

Wassalàmu 'alaikum wr.wb.
.