henset.jpg

Assalàmu 'alaikum wr.wb.

Pengunjung setia yang dikasihi Allah.

TEKNOLOGI.
Sebagian kita mungkin perlu mengistirahatkan diri atau setidaknya menjaga jarak dengan yang satu ini. Tak usah lama-lama, cukup sehari saja. Dan marilah kita tanya pada diri sendiri,

"Apakah makna teknologi bagi kita? atau sebaliknya, apa makna kita bagi teknologi?"

Pada tingkat yang lebih sederhana, pertanyaan tersebut bisa saja menjadi seperti berikut,

"Apa yang terjadi bila tv yang biasa kita tonton itu tiba-tiba rusak selama seharian?

Apa yang terjadi bila hp yang biasa kita gunakan, tiba-tiba tidak bisa dipakai SMS-an lagi?

Apa yang terjadi bila komputer, kotak mesin yang membantu pekerjaan kita sehari-hari itu tiba-tiba ngadat di tengah jalan?

Apa yang terjadi bila radio tape yang biasa kita dengarkan hanya bisa mengeluarkan suara kresak-kresek?

Apa yang anda rasakan bila pengalaman tersebut mengusik hidup anda?

Stress, bersungut -sungut, marah, kesal atau bahkan berbagai tekanan psikologis lainnya yang lebih parahkah?"

Tak bisa dipungkiri, di antara kita tidak bisa menafikan sederet gangguan jiwa itu.

Uniknya lagi, di sisi yang lain kita seringkali terbuai secara emosional dengan pernak pernik teknologis yang juga baru kita miliki.

Kita sangat senang punya hp baru, tv baru, komputer baru, radio baru dan sebagainya. Semua itu kadangkala membuat kita terlena. Kita puja dan sayangi ia layaknya makhluk hidup, hingga kita bisa begitu sangat hati-hati untuk mengotak-atiknya.

Coba bayangkan bila alat-alat elektronik itu hilang di saat kita sedang asyik mencintainya? sejumlah gangguan psikologislah mungkin yang menjadi jawabannya.

Begitulah teknologi menguasai kita. Rupanya, kehadirannya bukan lagi sekedar mesin yang tak bernyawa.

Ternyata ia telah kita beri nyawa, kita sisipkan ruh dalam jisimnya sebagaimana layaknya manusia. Dan diam-diam, kita tuhankan dia di dalam hati kita, di dalam hidup kita. Kita begitu tergantung dengan keberadaannya.

Padahal sejatinya teknologi sendiri, konon diciptakan untuk memudahkan manusia. Ia adalah seperangkat mesin yang akan melayani dan membantu kehidupan kita. Namun, dalam catatan peradaban manusia, kaidah ini tidak berlaku. Manusia justru menjadi pelayan dan pembantu teknologi.

Sesuatu yang tadinya dikreasi untuk kita kontrol dalam kehidupan kita malah sebaliknya, ia mengontrol dan mendominasi kita.

Pada point ini, layak kiranya kita sodorkan sebuah pertanyaan, "Siapakah di antara kita yang lebih berkuasa, teknologi ataukah diri kita?"

Kini, teknologi menjadi semacam -meminjam istilah Herbert Marcuse, filsuf jerman abad 20- fetisisme komoditi, seperangkat barang yang telah dimaknai dan dianggap memiliki ruh atau kekuatan tertentu, sehingga meninggalkan pengaruh magis dan daya pesona.

Ia menjadi berhala-berhala modern yang merasuk tanpa kita sadari. Bukankah dengan demikian Tuhan pernah berfirman,

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu..." (QS. An Nisa': 48). Na'udzu billahi min dzalik.

Kendati demikian, di abad modern ini, kita memang tidak bisa menolak kehadiran dan kebermanfaatan teknologi ini. Dan memang kita tak perlu melepaskan atau menolak teknologi dari kehidupan sehari-hari.

Adapun pilihan yang paling aman, mungkin kita mesti pandai mengarifi sebuah kemajuan tanpa harus terkontrol dan menjadi budaknya.

Kita mesti lebih bersungguh-sungguh bertaubat dan mendekatkan diri kepada Allah serta melanggengkan dzikir kepada-Nya.

Dengan cara beginilah, insyaallah hp, tv, komputer, internet dan lain sebagainya tidak meninggalkan pembodohan, pemanjaan nafsu dan pemurtadan ruhani kia.

Baca juga artikel
Sejarah awal mulanya internet

Demikian bahan renungan kita kali ini, semoga membawa manfaat bagi kita semua, aamiin.

Wassalàmu 'alaikum
.