ukhti.jpg

Assalàmu 'alaikum

Allah pernah menegaskan, bahwa termasuk dari golongan orang-orang yang tidak merugi, yaitu mereka yang mau saling memberi nasehat mengenai kebenaran dan kesabaran, setelah mereka beriman dan beramal shaleh (baca Al qur'an Surah Al 'Ashr).

Namun demikian, bukan berarti semau kita sendiri dalam memberikan nasehat kepada sesama.

Oleh karena itu, sebelum memberi nasehat, hendaknya kita mengetahui adab/ etika atau tata cara memberikan nasehat.

Berikut ada beberapa etika memberi nasehat yang perlu diperhatikan, di antaranya :

1. Hendaknya ikhlas di dalam memberikan nasehat, tidak mengharap apapun di balik nasehat kita selain keridlaan Allah dan terlepas dari kewajiban.

Dan hendaknya nasehat itu bukan untuk tujuan riya atau mendapat perhatian orang atau popularitas ataupun menjatuhkan orang yang diberi nasehat.

2. Hendaknya nasehat dengan cara yang baik dan tutur kata yang lembut serta mudah hingga dapat berpengaruh kepada orang yang dinasehati dan mau menerimanya.

Allah swt berfirman yang artinya, "Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasehat yang baik dan debatlah ia dengan cara yang lebih baik." (QS. An Nahl: 125)

3. Hendaknya orang yang dinasehati itu di saat sendirian, karena yang demikian itu lebih mudah ia terima.

Karena siapa saja yang menasehati saudaranya di tengah- tengah orang banyak, maka berarti ia telah mencemarkannya dan barang siapa yang menasehatinya secara sembunyi, maka ia telah menghiasinya.

Imam Syafi'i rahimahullah berkata, "Berilah aku nasehat secara berduaan, dan jauhkan aku dari nasehatmu di tengah- tengah orang banyak; karena nasehat di tengah- tengah orang banyak itu mengandung makna celaan yang aku tidak suka mendengarnya."

4. Hendaknya pemberi nasehat mengerti betul dengan apa yang ia nasehatkan, dan hendaknya ia berhati -hati dalam menukil pembicaraan agar tidak dipungkiri, dan hendaklah ia memerintah berdasarkan ilmu; karena yang demikian itu lebih mudah untuk diterima nasehatmu.

5. Hendaknya orang yang memberi nasehat memperhatikan kondisi orang yang akan dinasehatinya.

Maka, hendaknya tidak menasehatinya di saat ia sedang kalut, atau di saat ia sedang bersama rekan- rekannya atau kerabatnya.

Dan hendaknya pemberi nasehat mengetahui perasaan, kedudukan, pekerjaan dan problem yang dihadapi orang yang akan dinasehati itu.

6. Hendaknya pemberi nasehat menjadi teladan bagi orang yang akan dinasehati, agar jangan tergolong orang yang bisa menyuruh orang lain berbuat kebaikan sedangkan ia lupa terhadap diri sendiri.

Allah berfirman tentang Nabi Syu'aib, "Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang." (QS. Hud: 88)

7. Hendaknya pemberi nasehat sabar terhadap kemungkinan yang menimpanya.

Lukman berkata kepada anaknya, " Wahai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusi) mengerjakan yang ma'ruf dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan sabarlah terhadap apa yang menimpamu." (QS. Luqman: 17)

Lukman menyuruh anaknya untuk sabar terhadap kemungkinan yang terjadi karena ia memerintah orang lain mengerjakan kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Demikian beberapa poin penting mengenai etika memberi nasehat. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Wassalàmu 'alaikum .