r-koro.jpg

AssalĂ mu 'alaikum

Setiap manusia, termasuk diri kita pasti akan mengalami kematian. Dari sini, muncullah pertanyaan yang sering ditanyakan banyak kalangan. Dimanakah keberadaan roh setelah meninggalkan jasad /kematian?

Ibnu Qayyim al Jauziah dalam kitab Ar Ruh memberikan beberapa keterangan dan pendapat para ulama mengenai hal tersebut.

Menurut pendapat Abu Hurairah, Abdullah bin Umar dan lainnya mengatakan bahwa roh orang mukmin itu berada di sisi Allah di dalam surga, baik mereka syuhada ataupun yang lain. Mereka adalah golongan yang tidak terhalangi masuk surga karena perbuatan dosa besar atau karena hutang.

Pendapat lain mengatakan bahwa roh-roh tersebut berada di serambi surga, tepatnya di ambang pintu surga. Mereka juga mendapatkan kenikmatan dan rezeki dari surga. Ada pula pendapat bahwa roh-roh tersebut berada di serambi-serambi kubur hingga menunggu datangnya hari kiamat.

Imam Malik berkata, "Aku pernah mendengar bahwa roh-roh itu dilepaskan hingga dapat pergi ke mana pun yang dikehendakinya." Pendapat Al-Imam Ahmad berdasarkan riwayat anaknya, Abdullah, berkata bahwa roh orang kafir berada di neraka, sedangkan roh orang mukmin berada di surga.

Seorang sahabat dan tabi'in yang diriwayatkan oleh Abu Abdullah bin Mandah, berkata bahwa roh orang-orang mukmin berada di sisi Allah swt.

Ada pula sahabat dan tabi'in lain yang berpendapat bahwa roh orang-orang mukmin ada di Jabiyah, dan roh orang-orang kafir berada di Burhut (Hadramaut).

Shafwan bin Amr pernah bertanya kepada Amir bin Abdullah Abul-Yaman mengenai tempat berkumpul jiwa orang-orang mukmin setelah meninggal. Beliau menjawab bahwa bumi itulah yang menjadi tempat berkumpul bagi roh orang-orang mukmin hingga hari kebangkitan. Sebagaimana firman Allah, "Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauhul Mahfudh, bahwa bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shalih." (qs. al-anbiya: 105).

Namun, beberapa pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud bumi di situ adalah yang dipusakai orang mukmin selama di dunia.

Menurut pendapat Ka'ab, roh orang-orang mukmin berada di Illiyin di langit ketujuh, sedangkan roh orang-orang kafir berada di Sijjin di bumi yang ketujuh, dibawah pasukan Iblis.

Salman al Farisy berkata bahwa roh orang mukmin berada di barzakh bumi, yang dapat pergi ke mana pun yang dikehendaki, sedangkan roh orang-orang kafir berada di Sijjin.

Ada pula golongan yang berpendapat bahwa roh orang-orang mukmin berada di sebelah kanan Adam, dan roh orang kafir berada di sebelah kiri Adam.

Ibnu Hazm dan kalangan Dhahiri berpendapat bahwa roh berada di tempat sebelum badannya diciptakan.

"Apa yang kami katakan tentang keberadaan roh ini sebagaimana yang difirmankan Allah dan Nabi-Nya, dan kami tidak melebihi batasan ini, dan itu merupakan keterangan yang amat jelas."

Firman Allah, "Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini adalah Rabb kalian?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu sekalian tidak mengatakan, "sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah)." (qs. al a'raf: 172)

Nabi saw mengabarkan bahwa roh itu layaknya pasukan. Selagi roh itu saling mengenal, maka ia dapat bersatu, dan bila saling mengingkari, maka ia berselisih. Allah juga mengambil janji dan kesaksian roh manusia tentang Rububiyah, sebelum memerintahkan para malaikat bersujud kepada Adam dan memasukkan roh ke badan. Badan pada saat itu berupa tanah dan air, lalu ditempatkan Allah menurut kehendak-Nya, yaitu Barzakh yang juga menjadi tempat kembalinya setelah dia meninggal. Kemudian Allah senantiasa membangkitkan sekumpulan demi sekumpulan roh, lalu ditiupkan ke dalam badan yang bermula dari air mani.

Demikian beberapa pendapat tentang keberadaan roh setelah memasuki alam kubur hingga datang hari kiamat sebagaimana dikemukakan di atas itu memiliki alasan dan sandaran yang menguatkan pendapat tersebut, baik dari al qur'an maupun al hadits. Semoga kita dapat mengambil pelajarannya hingga kita dapat mempersiapkan diri atau membekali diri dalam menghadapinya, aamien. (Hidayah)

WassalĂ mu 'alaikum.